Perlunya Agro-Technopark Gambir di Sumatera Barat

<!Sumatera Barat merupakan penghasil gambir utama dunia. Sentra penghasil gambir di Sumatera Barat terbagi menjadi dua. Sentra utara ada di Kabupaten Limapuluh Kota dimana kecamatan penghasilnya adalah Mahat (Kecamatan Bukit Barisan), Pang­kalan Koto Baru, dan Kapur IX. Sentra Selatan adalah Pesisir Sela­tan (Kec. Koto XI Tarusan). Disamping itu, da­lam skala yang lebih kecil gambir juga diusahakan di Sumatera Selatan, Riau dan Sumatera Utara. Walaupun Sumatera Barat (baca:Indonesia) merupakan satu-satunya eksportir gambir utama dunia, namun posisi tawar menawar (bargaining position) kita masih rendah. Hal ini disebabkan karena pasar gambir kita yang masih bergantung pada pasar luar negeri, sementara harga gambir ditentukan oleh pihak luar negeri tersebut. Harga gambir yang dinikmati pe­tani jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga yang berlaku di pasaran international. Nilai tambah dari gambir tidak banyak dinikmati oleh petani gambir. Hal ini disebabkan oleh karena kita masih mengekspor gambir dalam bentuk gambir mentah. Dipihak lain, negara pengimpor memperoleh nilai tambah yang sangat besar dari produk yang mereka hasilkan dari gambir. Saat ini saja sudah lebih dari 100-an patent internasional yang sudah didaftarkan di Amerika Serikat (http://www.freepatentsonline.com) berkenaan dengan pemanfaatan gambir untuk produk-produk yang bermanfaat seperti untuk anti-penuaan, antioksidan, anti-virus, anti-mikroba, insektisida, dan lain-lain. Secara global melalui situs internet, ada puluhan jenis produk berbahan baku gambir yang sudah dipasarkan. Sebaliknya, kita di Indonesia belum memiliki satu pun produk turunan gambir yang sudah dijual secara komersial, walaupun beberapa penelitian mengenai diversifikasi pemanfaatan gambir sudah banyak dilakukan. . Berbagai masalah lain masih dihadapi dalam pengembangan gambir. Harga gambir yang berlaku pada tingkat petani sangat fluaktuatif. Mutu gambir yang tidak seragam karena tidak adanya mutu standard yang diterapkan didalam perdagangannya walaupun kita sudah 30 tahunan memiliki standar mutu gambir tersebut. Rendahnya tingkat kesejahteraan petani karena tingginya ketergantungan kepada tengkulak juga merupakan masalah lain yang sampai sekarang sulit dipecahkan. Untuk memecahkan masalah tersebut di atas maka perlu suatu upaya besar bersama-sama, bersifat komprehensif dan kontinu untuk mening­katkan nilai tambah gambir dan meningkatkan pendapatan petani. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah membangun suatu kawasan dimana di tempat tersebut dipikirkan mengenai seluruh aspek strategis mengenai gambir, mulai aspek budidaya, pengolahan, pemasaran dan aspek yang behubungan dengan sosial budaya dan lingkungan. Kawasan tersebut dinamakan dengan kawasan Agrotechnopark gambir. Secara konsep Agroteknopark memadukan 4 kegiatan dalam satu tempat, yaitu 1) Agroindusri Terpadu, 2) Pendidikan dan Pelatihan, 3) Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Teknologi, dan 4) Jasa konsultan untuk Pemda dan Masyarakat. Keempat kegiatan tersebut terintegrasi dalam suatu kawasan Agrotechnopark tersebut.

Sejarah Kawasan Technopark

Konsep Technopark diawali pada akhir tahun 1940-an, di Stanford University, California, Amerika Serikat. Sebagai sebuah universitas swasta yang baru mulai tumbuh, Stanford University memiliki kesulitan finansial untuk menarik minat dan menggaji staf pengajarnya yang bagus-bagus. Meski memiliki lahan yang luas, pengelola universitas tidak diperkenankan untuk menjual lahan tersebut. Akhirnya, diputuskan untuk membuat sebuah ”Stanford Research Park”, dimana industri dapat menyewa tempat di lahan Stanford University. Saat itu mulailah tumbuh di seputar daerah Stanford University hubungan baik antara industri dan perguruan tinggi. Perusahaan yang tumbuh di daerah sekitar Stanford University inilah yang mendorong tumbuhnya Silicon Valley di kemudian hari. Kesuksesan Silicon valley membuat bebagai tempat di dunia mempelajari cara-cara yang ditempuh oleh Stanford University. Bengalore di India merupakan contoh sukses kawasan Technopark yang menghasilkan software dengan proyeksi pendapatan US$ 50 milyar dollar pada tahun 2008. Kesuksesan tersebut diikuti oleh Cina, Malaysia dan Gwangju Technopark di Korea. Dalam prakteknya, kawasan technopark didesain dengan penguatan (fokus) teknologi tertentu berdasarkan keunggulan sumberdaya yang dimiliki seperti: teknologi informasi, multimedia, teknologi robot, bioteknologi, manufaktur, mikroelectronik, farmasi, pangan dan agroteknologi. Fokus pada pada agroteknologi inilah yang dinamakan dengan Agro-Technopark Dengan sistem Agro-Technopark, pola tanaman dan industri pasca panen dapat mengikuti standar untuk menghasilkan produk pertanian yang memenuhi standar internasional guna memasuki persaingan pasar bebas. Sistem Agro-Technopark memungkinkan untuk masuknya berbagai jenis teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hasil pertanian dan peternakan. Dengan teknologi Bio-Cyclo-Farming, produk pertanian tidak hanya berupa biji-bijian dan padi, jagung, dan kedelai, akan tetapi juga memanfaatkan produk samping dan hasil panen. Batang jagung, jerami, batang kedelai, batang dan daun kacang tanah dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui proses fermentasi pengayaan protein untuk menghasilkan. Produk lain berupa daging, telur dan ikan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan limbah ternak merupakan bahan baku yang baik untuk menghasilkan pupuk pertanian yang murah tapi berdampak positif terhadap produk pertanian dan kesuburan lahan. Peluang ekonomi yang bisa dikembangkan dalam Agro-Technopark adalah sistem multiple cropping antara panen harian (unggas/sapi perah), panen musiman (jagung, kedelai, padi), panen bulanan (ikan), panen tahunan (sapi), dan panen winduan (jati emas). Pola ini akan dikembangkan dimasyarakat untuk memungkinkan petani menabung karena adanya panen harian, bulanan, tahunan dan seterusnya. Kemampuan petani untuk menabung inilah yang harus kita tingkatkan, sebab bila petani mampu menabung maka ekonomi dikawasan tersebut akan tumbuh dan berpengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi daerah dan ketahanan pangan, yang selanjutnya akan berdampak kepada upaya peningkatan daya serap tenaga kerja yang berkualitas yang mampu memanfaatkan sumberdaya alam daerah yang berlimpah. Sejak 2003, sistem Agro-Technopark ini sudah dikembangkan diberbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera Selatan, Gorontalo, dan NTT sebagai pilot project yang diharapkan menjadi model untuk pengembangan daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

Agro-Technopark Gambir di Sumatera Barat

Agro-Technopark adalah kawasan dengan kondisi lingkungan yang unik yang memberikan iklim kondusif bagi perkembangan teknologi dan pertumbuhan usaha. Dalam kawasan tersebut harus terdapat minimal 3 pilar yang mendukung kesuksesan Agro-Technopark, yaitu universitas yang memiliki kemampuan riset dan pengembangan, perusahaan sebagai jangkar bagi pertumbuhan ekonomi dan teknologi, serta lembaga keuangan khususnya modal ventura yang siap mendukung pertumbuhan perusahaan baru yang berbasis pada perkembangan teknologi. Fokus teknologi di kawasan technopark berdasarkan keunggulan sumberdaya yang dimiliki. Dari sisi sumberdaya, Sumatera Barat memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan tempat lainnya di dunia, karena kita merupakan penghasil utama gambir dunia. Keunggulan komparatif inilah yang diharapkan dapat dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif. Sumatera Barat memiliki pilar utama yang akan mendukung kesuksesan kawasan Agro-technopark yaitu Universitas Andalas. Beberapa penelitian mengenai gambir sudah banyak dilakukan oleh peneliti di Universitas Andalas. Beberapa paten telah dan sedang diusulkan berkenaan dengan pengembangan produk baru dari gambir. Disamping Universitas Andalas ada beberapa universitas dan politeknik yang tersebar di Sumatera Barat. Semakin bayak universitas yang tersebar dalam suatu kawasan Agro-technopark akan menambah banyaknya sumberdaya manusia yang berkualitas sehingga menjadi pendorong untuk pertumbuhan kawasan tersebut dengan memberikan inovasi teknologi dan menciptakan produk baru dari gambir. Perusahaan-perusahaan yang tersebar di kawasan technopark akan menentukan kelangsungan kawasan itu. Perusahaan ini merupakan kepanjangan dari pilot project atas penemuan-penemuan produk baru. Percepatan pertumbuhan technopark harus didukung oleh kehadiran lembaga keuangan khususnya modal ventura. Modal ventura biasanya tidak memberikan persyaratan pinjaman yang sangat ketat dalam memberikan pinjaman, terutama berkaitan dengan jaminan dan asset. Untuk Sumatera Barat diharapkan Sumatera Barat Ventura (SSBV) berperan sebagai pilar ketiga, disamping lembaga keuangan lainnya.

Apa yang harus dilakukan

Pembangunan kawasan Agro-technopark di Sumatera Barat merupakan suatu pekerjaan besar. Maka dari itu diperlukan pemikiran yang besar yang komprehensif pula. Di dalam memikirkan itu banyak pihak yang harus dilibatkan. Peran pemerintah daerah (baca: gubernur) sangat menentukan di dalam membangun komitmen ini. Untuk memikirkan dan merumuskan konsep Agro-technopark gambir ini maka perlu diadakan sebuah lokakarya. Lokakarya ini harus berskala nasional dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait secara nasional. Kementrian Riset dan Teknologi yang mengusung konsep technopark merupakan lembaga kunci yang harus dihadirkan. Kemudian Departemen Pertanian terutama Direktorat Jendral Perkebunan, Departemen Perindustrian (terutama Direktorat Jendral Industri Agro dan Kimia), Departemen Perdagangan (terutama Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri), Departemen Kesehatan , BPPT, Dewan Rempah Indonesia, Pemda Sumbar (terutama Pemda 50 Kota dan pemda Pesisir Selatan), Riau, Sumut dan Sumsel, Balitbangda, beberapa peneliti Universitas, Pusat penelitian, pengusaha, petani dan lembaga keuangan. Setidaknya ada 5 tujuan yang harus dirumuskan dalam lokakarya guna mendukung pendirian kawasan Agrotechnopark gambir : (1) Bagaimana bentuk dan format badan yang memikirkan pengembangan gambir nasional; (2) bagaimana road-map pengembangan gambir nasional; (3) Bagaimana desain Agrotechnopark gambir Sumatera Barat; (4) Merumuskan rencana strategis pengembangan gambir nasional; (5) Membuat Action Plan untuk 5 tahun ke depan. Pembangunan kawasan Agrotechnopark gambir merupakan program serius jangka panjang. Kegiatan ini membangun sebuah sistem yang harus kontinu dan harus dipikirkan secara komprehensif dan mengakar. Pertanyaannya sekarang adalah ”siap dan maukah kita memulainya?”. Pertanyaan tersebut berpulang kepada pemerintah daerah (baca: gubernur) Sumatera Barat. <!

3 Tanggapan

  1. Informasi dan referensi mengenai gambir sampai saat ini dirasa masih sangat kurang, sehingga dirasa sulit untuk memperoleh data yang akurat tentang segala sesuatunya dari tanaman gambir mulai dari aspek budidaya sampai produksi danb pemasaran. Termasuk artikel tentang gambir tecnopark pada blog ini, agar jangan menyesatkan, untuk daerah kabupaten Limapuluh Kota sepanjang pengetahuan kami tidak ada kecamatan yang namanya Sungai Sermbilan, dan juga Mahat termasuk ke dalam kecamatan Bukit Barisan. Terimakasih

  2. So far , upaya panitia lokakarya gambir cukup bagus. Soasialisasi menjadi lebih efektif n efisien dengan adanya blog indonesian gambir center. Tapi kami belum melihat keterlibatan Gambir developmnet center (GDC) yang sudah hampir 5 tahun kiprahnya di dunia pergambiran dalam lokakarya ini. Mohon komentar panitia mengapa demikian? Terimakasih

  3. adalah suatu hal yang sangat ironis sekali ketika, banyak kalangan menganggap gambir sebagai komoditas unggulan di sumbar, nasib petani gambir justru tidak mengalalami perubahan. hal mendasar adalah belum adanya pabrik pengolahan gambir di sumbar. gambir yang dijual masih berupa gambir mentah yang harganya tentu rendah dibandingkan gambir olahan, terutama di lima puluh kota yang merupakan sentra gambir dunia. agro-technopark mungkin salah satu solusi nya, sumbar jangan hanya jadi penghasil bahan baku, tetapi harus jadi pusat pengolahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s